BAB II
PEMBAHASAN
A.
Teori Sigmund freud.
Teori
Freud. Psikoanalisis hampir diidentikan dengan sosok seorang Freud. Sigmund
Freud (1856-1939) lahir pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg Moravia yang pada
masa itu merupakan provinsi di bagian utara Kekaisaran Autro Hongaria dan
sekarang adalah wilayah Republik Ceska.
Pandangan
pandangan freud terus berkembang selama kariernya yang panjang. Hasil kolektif
tulisan tulisan yang luas merupakan sebuah sistem rinci tentang perkembangan
kepribadian. Freud mengemukakan tiga struktur spesifik kepribadian yaitu Id,
Ego dan Superego. Ketiga struktur tersebut diyakininya terbentuk secara
mendasar pada usia tujuh tahun.
Struktur
ini dapat ditampilkan secara diagramatik dalam kaitannya dengan aksesibilitas
bagi kesadaran atau jangkauan kesadaran individu. Id merupakan libido murni
atau energi psikis yang bersifat irasional. Id merupakan sebuah keinginan yang
dituntun oleh prinsip kenikmatan dan berusaha untuk memuaskan kebutuhan ini.
Ego
merupakan sebuah pengatur agar id dapat dipuaskan atau disalurkan dalam
lingkungan sosial. Sistem kerjanya pada lingkungan adalah menilai realita untuk
mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego.
Sedangkan Superego sendiri adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena
ia merupakan nilai baik-buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang
dilakukan oleh dorongan Ego yaitu Id.
1.
Kesadaran dan Ketidaksadaran
Pemahaman
tentang kesadaran dan ketidaksadaran manusia merupakan salah satu sumbangan
terbesar dari pemikiran Freud. Menurutnya, kunci untuk memahami perilaku dan
problema kepribadian bermula dari hal tersebut. Ketidakasadaran itu tidak dapat
dikaji langsung, karena perilaku yang muncul itu merupakan konsekuensi
logisnya.
Sedangkan
kesadaran itu merupakan suatu bagian terkecil atau tipis dari keseluruhan
pikiran manusia. Hal ini dapat diibaratkan seperti gunung es yang ada di bawah
permukaan laut, dimana bongkahan es itu lebih besar di dalam ketimbang yang
terlihat di permukaan.
Demikianlah
juga halnya dengan kepribadian manusia, semua pengalaman dan memori yang
tertekan akan dihimpun dalam alam ketidaksadaran.
2.
Kecamasan
Bagian yang tidak
kalah penting dari teori Freud adalah tentang kecemasan. Kecemasan ini
menurutnya berkembang dari konflik antara sistem id, ego dan superego tentang
sistem kontrol atas energi psikis yang ada. Menurut Freud kecemasan itu ada
tiga: kecemasan realita, neurotik dan moral.
a.
Kecemasan realita adalah rasa
takut akan bahaya yang datang dari dunia luar dan derajat kecemasan semacam itu
sangat tergantung kepada ancaman nyata.
b.
Kecemasan neurotik adalah rasa
takut kalau-kalau instink akan keluar jalur dan menyebabkan sesorang
berbuat sesuatu yang dapat mebuatnya
terhukum, dan
c.
Kecemasan moral adalah rasa
takut terhadap hati nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup
berkembang cenderung merasa bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan
dengan norma moral.
3.
Mekanisme Pertahan Ego
Untuk menghadapi
tekanan kecemasan yang berlebihan, sistem ego terpaksa mengambil tindakan
ekstrim untuk menghilangkan tekanan itu. Tindakan yang demikian itu, disebut
mekanisme pertahanan, sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan ego terhadap
tekanan kecemasan. Dalam teori Freud, bentuk-bentuk mekanisme pertahanan yang
penting adalah:
a.
represi; ini merupakan sarana
pertahanan yang bisa mengusir pikiran serta perasaan yang menyakitkan dan
mengancam keluar dari kesadaran,
b.
memungkiri; ini adalah cara
mengacaukan apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dilihat seseorang dalam
situasi traumatik,
c.
pembentukan reaksi; ini adalah
menukar suatu impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan melawannya
dalam kesadaran,
d.
proyeksi; ini berarti
memantulkan sesuatu yang sebenarnya terdapat dalam diri kita sendiri ke dunia
luar,
e.
penggeseran; merupakan suatu
cara untuk menangani kecemasan dengan menyalurkan perasaan atau impuls dengan
jalan menggeser dari objek yang mengancam ke “sasaran yang lebih aman”,
f.
rasionalisasi; ini cara
beberapa orang menciptakan alasan yang “masuk akal” untuk menjelaskan
disingkirnya ego yang babak belur,
g.
sublimasi; ini suatu cara untuk
mengalihkan energi seksual kesaluran lain, yang secara sosial umumnya bisa
diterima, bahkan ada yang dikagumi,
h.
regresi; yaitu berbalik kembali
kepada prilaku yang dulu pernah mereka alami,
i.
introjeksi; yaitu mekanisme
untuk mengundang serta “menelaah” sistem nilai atau standar orang lain,
j.
konpensasi,
k.
ritual dan penghapusan.
4.
Tahap Perkembangan Kepribadian
Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran
yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai
dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian
tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting
bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap. Menurut Freud,
kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun, meliputi beberapa
tahap yaitu tahap oral, tahap anal, tahap phalik, tahap laten, dan tahap
genital.
A.
Teori Social-Cognitive (Bandura-Mischel)
Menurut teori social-cognitive, struktur kepribadian individu
terdiri dari empat konsep utama yaitu competencies-skills, belief-expectancies,
evaluative standards, dan personal goal.
1.
Compentencies-skills
Kompetensi atau skill adalah kemampuan yang dimiliki oleh individu
untuk menyelesaikan dan menghadapi masalah dalam hidupnya. Kompetensi meliputi
cara bepikir tentang masalah dalam kehidupan dan kemampuan bertingkah laku
dalam menyelesaikan masalah. Skill adalah kompetensi yang dimiliki individu
dalam konteks yang spesifik. Kompetensi diperoleh melalui interaksi sosial dan
observasi terhadap dunia.
Perkembangan kompetensi
kognitif dan tingkah laku juga turut mempengaruhi delay gratification skill,
kemampuan individu dalam menunda kepuasan impuls yang tidak tepat secara social
atau secara potential membahayakan diri sendiri. Delay gratification skill ditentukan
oleh hasil yang diinginkan, pengalaman pribadi di masa lalu serta observasi
terhadap konsekuensi yang diterima oleh model.
2.
Belief-expectancies
Sebuah pemikiran melibatkan beliefs mengenai seperti apa dunia yang
sesungguhnya dan seperti apa masa depan. Ketika beliefs diarahkan pada masa
depan maka disebut dengan expectancies. Ekspektansi terhadap masa depan
merupakan hal utama yang menentukan bagaimana kita bertingkah laku. Individu
memiliki ekspektansi pada tingkah laku yang diterima oleh orang, reward dan
punishment yang mengikuti tingkah laku tertentu, serta kemampuan individu untuk
mengatasi stres dan tantangan. Inti dari kepribadian adalah pada perbedaan cara
dimana manusia sebagai individu yang unik menerima suatu situasi, mengembangkan
ekspektansi mengenai keadaan yang akan datang, dan menampilkan perbedaan pola
perilaku sebagai hasil dari perbedaan persepsi dan ekspektansi tersebut. Sama
halnya dengan kompetensi, ekspektansi yang dimiliki individu bersifat
kontekstual.
Bandura (1997, 2001, dalam Pervin, Cervone, & John, 2005) telah
menekankan bahwa ekpektansi manusia mengenai kemampuan performanya menjadi
kunci dalam prestasi manusia dan kesejahteraannya. Bandura mengacu ekspektansi
tersebut sebagai persepsi dari self-efficacy. Perceived self-efficacy kemudian
mengacu pada persepsi seseorang terhadap kemampuan yang dimilikinya untuk
bertindak dalam situasi yang akan datang. Persepsi self-efficacy menjadi
penting karena mempengaruhi keberhasilan seseorang.
3.
Evaluative Standard dan Personal Goal
Goal atau tujuan berkaitan dengan kemampuan individu untuk
mengantisipasi masa depan dan untuk memotivasi dirinya sendiri. Adanya tujuan
dalam hidup dapat mengarahkan individu untuk membuat prioritas, mengabaikan
pengaruh-pengaruh sementara dan mengorganisasi tingkah laku selama periode
waktu tertentu. Goal bukan suatu sistem yang kaku, melainkan individu dapat
memilih tujuannya tergantung dari apa yang dinilai paling penting bagi dirinya
saat itu, kesempatan apa yang tersedia di lingkungan dan penilaiannya terhadap
self -efficacy dalam mencapai tujuan, sesuai dengan tuntutan lingkungan.
4.
Evaluative Standards
Individu memiliki evaluative standards yang merepresentasikan tujuan
yang akan dicapai dan landasan dalam mengharapkan reinforcement dari orang lain
dan diri sendiri. Evaluative standard yang melibatkan pemikiran mengenai
sesuatu harus seperti apa, yaitu kriteria mental untuk mengevaluasi baik atau
buruknya suatu peristiwa. Hal ini meliputi pengalaman akan emosi seperti malu,
bangga, merasa puas atau tidak puas terhadap dirinya.
Evaluative standards yang
dipelajari juga meliputi prinsip-prinsip moral dan etika dalam bertingkah laku.
Di dalam evaluative standards yang dimiliki seseorang terdapat pengaruh
eksternal meskipun berasal dari internal individu. Evaluative standards
merupakan hal yang mendasari motivasi dan performance dari seseorang. Standar
evaluasi sering memicu reaksi emosional. Seseorang merasa bangga bila mencapai
standar performanya dan kecewa ketika gagal mencapai standar tersebut. Hal tersebut
mengarah pada self-evaluation reactions, yaitu seseorang mengevaluasi
tindakannya dan kemudian berespons secara emosional (puas atau tidak puas)
sebagai hasil dari evaluasi.
B.
Teori Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)
Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) adalah seorang behavioristik
terkenal dengan teori pengkondisian asosiatif stimulus-respons dan hal ini yang
dikenang darinya hingga kini. Ia tidak pernah memiliki hambatan serius dalam
sepanjang kariernya meskipun terjadi kekacauan dalam revolusi rusia.
Pavlov lahir di kota kecil di Rusia tengah, anak seorang pendeta
ortodoks pedesaan. Pada awalnya ia berniat mengikuti jejak ayahnya, namun
mengurungkan dan pergi ke universitas di St. Petersburg untuk mengajar pada
tahun 1870. Dari sinilah karir seorang pavlov mulai berjalan hingga ia memimpin
institut Fisiologi Pavlovian di Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.
Ia menemukan bahwa ia dapat menggunakan stimulus netral, seperti
sebuah nada atau sinar untuk membentuk perilaku (respons). Dalam hal ini,
eksperimen yang dilakukan oleh pavlov menggunakan anjing sebagai subyek
penelitian.
Berikut adalah
tahap-tahap eksperimen dan penjelasan dari gambar diatas:
1.
Gambar pertama
Dimana anjing, bila diberikan sebuah makanan (UCS) maka secara
otonom anjing akan mengeluarkan air liur (UCR).
2.
Gambar kedua
Jika anjing dibunyikan sebuah bel maka ia tidak merespon atau
mengeluarkan air liur.
3.
Gambar ketiga
Sehingga dalam eksperimen ini anjing diberikan sebuah makanan (UCS)
setelah diberikan bunyi bel (CS) terlebih dahulu, sehingga anjing akan
mengeluarkan air liur (UCR) akibat pemberian makanan.
4.
Gambar keempat.
Setelah perlakukan ini dilakukan secara berulang-ulang, maka ketika
anjing mendengar bunyi bel (CS) tanpa diberikan makanan, secara otonom anjing
akan memberikan respon berupa keluarnya air liur dari mulutnya (CR).
Dalam ekperimen ini bagaimana cara untuk membentuk perilaku anjing
agar ketika bunyi bel di berikan ia akan merespon dengan mengeluarkan air liur
walapun tanpa diberikan makanan. Karena pada awalnya (gambar 2) anjing tidak
merespon apapun ketika mendengar bunyi bel.
Jika anjing secara terus menerus diberikan stimulus berupa bunyi bel
dan kemudian mengeluarkan air liur tanpa diberikan sebuah hadiah berupa
makanan. Maka kemampuan stimulus terkondisi (bunyi bel) untuk menimbulkan
respons (air liur) akan hilang. Hal ini disebut dengan extinction atau penghapusan.
Pavlov mengemukakan empat peristiwa eksperimental dalam proses
akuisisi dan penghapusan sebagai berikut:
a.
Stimulus tidak terkondisi
(UCS), suatu peristiwa lingkungan yang melalui kemampuan bawaan dapat
menimbulkan refleks organismik. Contoh: makanan
b.
Stimulus terkondisi (CS), Suatu
peristiwa lingkungan yang bersifat netral dipasangkan dengan stimulus tak
terkondisi (UCS). Contoh: Bunyi bel adalah stimulus netral yang di pasangkan
dengan stimulus tidak terkondisi berupa makanan.
c.
Respons tidak terkondisi (UCR),
refleks alami yang ditimbulkan secara otonom atau dengan sendirinya. Contoh:
mengeluarkan air liur
d.
Respos terkondisi (CR), refleks
yang dipelajari dan muncul akibat dari penggabungan CS dan US. Contoh:
keluarnya air liur akibat penggabungan bunyi bel dengan makanan.
Menilik
psikologi behavioristik menggunakan suatu pendekatan ekperimental,
refleksiologis objektif pavlov tetap merupakan model yang luar biasa dan tidak
tertandingi. Bila dicontohkan dalam kehidupan nyata teori pavlov ini bisa
diterapkan. Sebagai contoh untuk menambah kelekatan dengan pasangan, Jika anda
mempunyai pasangan yang “sangat suka (UCR)” dengan coklat (UCS). Disetiap anda
bertemu (CS) dengan kekasih anda maka berikanlah sebuah coklat untuk kekasih
anda, secara otonom dia akan sangat suka dengan coklat pemberian anda.
Berdasarkan
teori, ketika hal itu dilakukan secara berulang-ulang, selanjutnya cukup dengan bertemu dengan anda
tanpa memberikan coklat, maka secara otonom pasangan anda akan sangat suka (CR)
dengan anda, hal ini dapat terjadi karena pembentukan perilaku antara UCS, CS,
UCR, dan CR seperti ekperimen yang telah dilakukan oleh pavlov. Menarik bukan?
C.
TEORI Eysenck
Eysenck
berpendapat dasar umum sifat-sifat kepribadian berasal dari keturunan, dalam
bentuk tipe dan trait. Dia juga berpendapat bahwa semua tingkahlaku dipelajari
dari lingkungan. Menurutnnya kepribadian adalah keseluruhan pola tingkahlaku
aktual maupun potensial dari organisme, sebagaimana ditentukan oleh keturunan
dan lingkungan. Pola tingkahlaku itu berasal dan dikembangkan melalui interaksi
fungsional dari empat sektor utama yang mengorganisir tingkahlaku; sektor
kognitif (intelligence), sektor konatif (character), sektor afektif
(temperament), sektor somatik (constitution).
1.
Hirarki Faktor-Faktor Kepribadian.
Kepribadian sebagai organisasi tingkahlaku oleh Eysenck dipandang
memiliki empat tingkatan hirarkis, beturut-turut dari hirarki yang tinggi ke
hirarki yang rendah: tipe – traits – habit – respon spesifik.
a.
Hirarki tertinggi: Tipe,
kumpulan dari trait, yang mewadahi kombinasi trait dalam suatu dimensi yang
luas.
b.
Hirarki kedua: Trait, kumpulan
kecenderungan kegiatan, koleksi respon yang saling berkaitan atau mempunyai
persamaan tertentu. Ini adalah disposisi kepribadian yang penting dan permanen.
c.
Hirarki ketiga: Kebiasaan
tingkahlaku atau berfikir, kumpulan respon spesifik, tingkahlaku/fikiran yang
muncul kembali untuk merespon kejadian yang mirip.
d.
Hirarki terendah: Respon
spesifik, tingkahlaku yang secara aktual dapat diamati, yang berfungsi sebagai
respon terhadap suatu kejadian.
Eysenck menemukan tiga dimensi tipe, yakni ekstraversi (E),
neurotisisme (N), dan psikotisme (P). Masing-masing dimensi saling asing,
sehingga dapat berlangsung kombinasi antar dimensi secara bebas. Masing-masing
tipe merupakan kumpulan dari 9 trait, sehingga semuanya ada 27 trait (Gambar
10). Trait dari ekstraversi adalah: sosiabel (sociable), lincah (lively), aktif
(active), asertif (assertive), mencari sensasi (sensation seeking), riang
(carefree), dominan (dominance), bersemangat (surgent), berani (venture some).
Trait dari neurotisisme adalah: cemas (anxious), tertekan (depressed), berdosa
(guild feeling), harga diri rendah (low self esteem), tegang (tension),
irasional (irrational), malu (shy), murung (moody), emosional (emotional).
Trait dari psikotisme adalah: agresif (aggressive), dingin (cold), egosentrik
(egocentric), takpribadi (impersonal), impulsif (impulsive), antisosial
(antisocial), tak empatik (tak empatik), kreatif (creative), keras hati
(tough-minded).
D.
Teori Allport :
Sebuah organisasi dinamis di dalam sistem psikis dan fisik individu
yang menentukan karakteristik perilaku dan pikirannya.
E.
Pervin dan John:
Kepribadian mewakili karakteristik individu yang terdiri dari
pola-pola pikiran, perasaan dan perilaku yang konsisten.
F.
Komparasi Antara Teori Kepribadian Al-Ghazali Dan Erich Fromm
Perbandingan
Konsep Kepribadian Al-Ghazali dan Erich Fromm
1. Struktur
Kepribadian Ghazali (Gh):
a.
nafsu (impuls primitif) ,
b.
akal (realistik rasionalistik)
dan
c.
kalbu (spiritual)
2. Fromm (Fr):
Lima struktur kebutuhan jiwa yaitu :
a.
relasi,
b.
transendensi,
c.
keberakaran,
d.
identitas,
e.
orientasi.
Pada prinsipnya Al-Ghazali dan Fromm memandang manusia pada
hakekatnya baik. Perbedaan terletak pada pendekatan dalam merumuskan kriteria
baik itu sendiri.
Berikut ini perbedaan lainnya :
§
Landasan Teoritis Gh: Konsep
teosentris berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah melalui metode tasawuf Fh: Konsep
yang antroposentris dengan penekanan pada faktor kebudayaan dan perubahan
sosial Fromm mengedepankan aspek kemanusiaan, sedangkan Al-Ghazali disamping
aspek kemanusiaan juga peran Tuhan.
§
Tujuan Gh: Membentuk individu
yang memiliki konsistensi iman, islam, ibadah dan mu’amalah untuk mendapat
ridla Allah Fr: Menciptakan komunitas masyarakat sehat Fromm berorientasi
humanistik sosial, sedangkan Al-Ghazali humanistik spiritual.
§
Hereditas Gh: Faktor keturunan
sebagai salah satu penentu kepribadian Fr: Faktor keturunan sebagai salah satu
penentu kepribadian Berpandangan sama mengenai peranan faktor hereditas.
§
Keunikan Gh: Konsep kepribadian
Muthmainnah Fr: Konsep kepribadian yang antroposentris, humanis, dan sosialis
Kalbu sebagai struktur tertinggi yang mampu mengendalikan semua sistem
kepribadian.
§
Lingkungan psikologis Gh:
Keluarga dan interaksi sosial Fr: Kebudayaan dan perubahan sosial Sama-sama
memandang adanya pengaruh lingkungan terhadap kepribadian.
§
Kompleksitas mekanisme Gh:
Mekanisme sistem kalbu, akal, dan nafsu Fr: Mekanisme sistem kebutuhan jiwa
Fromm menekankan aspek kebutuhan psikologis, Al-Ghazali mengedepankan komponen
psikis.
§
Kepribadian ideal Gh:
Kepribadian Muthmainah yang mengantarkan manusia pada eksistensi sebenarnya
sebagai hamba Allah Fr: Kepribadian yang memiliki orientasi produktif yang
mampu memenuhi kebutuhan jiwanya Perbedaan yang menonjol adalah pada ada
tidaknya aspek spiritualitas dalam kepribadian.
Relevansi Penerapannya dalam Pendidikan Pendidikan merupakan salah
satu upaya pembentukan kepribadian. Konsep kepribadian model Erich Fromm dan
Al-Ghazali memiliki pengaruh yang besar terhadap pendidikan. Pandangan
Al-Ghazali tentang pendidikan lebih cenderung pada pendidikan moral dengan
pembinaan budi pekerti dan penanaman sifat-sifat keutamaan pada anak didik.
Adapun pendidikan dalam pandangan Fromm cenderung kepada pendidikan pembentukan
karakter pribadi yang produktif pada anak. Konsep pendikan mereka ini erat
sekali hubungannya dengan tujuna pendidikan.
G.
Teori kepribadian Abraham Maslow
Abraham Harold Maslow lahir pada tanggal 1 April 1908 di Brooklyn,
New York. Dia anak pertama dari tujuh bersaudara. Kedua orangtuanya adalah
penganut yahudi tidak berpendidikan yang berimigrasi dari Rusia. Karena sangat
berharap anak-anaknya berhasil di dunia baru, kedua orang tuanya memaksa Maslow
dan saudara-saudaranya belajar keras agar meraih keberhasilan di bidang
akademik. Tidak heran jika semasa kanak-kanak dan remaja, Maslow menjadi anak
penyendiri dan menghabiskan hari-harinya dengan buku.
Maslow mendapat kedudukan dari departemen psikologi di Branders dari
1951 sampai 1969. disitu dia bertemu Kurt Goldstein, yang memberi ide atau
pikiran tentang aktualisasi diri dalam bukunya yang terkenal, The Organism
(1934). Disini juga dia memulai mengenalkan psikologi humanistik – sesuatu yang
besar yang lebih penting untuk dia daripada teori yang dibuatnya.
Maslow mengembangkan gagasan ini lebih lanjut dan dikenal dengan
sebutan hirearki kebutuhan:
a.
Kebutuhan fisiologis. Ini
termasuk kebutuhan akan oksigen, air, protein, garam, gula, kalsium, dan
lainnya seperti mineral dan vitamin. Ini juga, termasuk kebutuhan untuk menjaga
PH agar seimbang dan suhu yang sesuai. Dan juga, ada kebutuhan untuk aktif,
istirahat, tidur, untuk melepaskan diri dari yang tidak dibutuhkan ( CO2,
keringat, air kencing, dan kotoran ), untuk menjaga agar tidak sakit dan untuk
memenuhi seks.
b.
Kebutuhan rasa aman. Kalau
kebutuhan fisiologis sudah diperhatikan, barulah lapisan kebutuhan kedua ini
muncul. Anda akan semakin ingin menemukan situasi dan kondisi yang aman, stabil
dan terlindung. Anda perlahan – lahan akan menginginkan struktur dan tatanan.
Sebaliknya, jika kebutuhan lapisan kedua ini dilihat secara negatif, perhatian
anda akan terfokus bukan pada persoalan lapar dan haus, tapi pada rasa takut
dan kecemasan. Dikalangan orang-orang dewasa di amerika, kebutuhan ini akan
terwujud dalam keinginan mereka yang sangat kuat untuk tinggal berdekatan
dengan tetangga yang baik, pekerjaan yang aman, perencanaan masa pension yang
matang, asuransi, dan lain sebagainya.
c.
Kebutuhan cinta dan rindu
(kebutuhan untuk dimiliki atau memiliki). Ketika kebutuhan fisiologis dan rasa
aman sudah terpenuhi , kebutuhan lapisan ketiga pun muncul. Anda mulai merasa
butuh teman, kekasih, anak dan bentuk hubungan berdasarkan perasaan Lainnya.
Dilihat secara negative, anda akan semakin mencemaskan kesendirian dan
kesepian. Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan ini dapat berbentuk keinginan
untuk menikah, memiliki keluarga, menjadi bagian dari satu kelompok atau
masyarakat.
d.
Kebutuhan harga diri. Setelah
itu kita akan mencari harga diri. Maslow mengatakan bahwa ada dua bentuk
kebutuhan terhadap harga diri ini : bentuk yang lemah dan yang kuat. Bentuk
yang lemah adalah kebutuhan kita untuk dihargai orang lain, kebutuhan terhadap
status, kemuliaan, kehormatan, perhatian, reputasi, apresiasi bahkan dominasi.
Sementara yang kuat adalah kebutuhan kita untuk percaya diri, kompetensi,
kesuksesan, independensi dan kebebasan. Bentuk kedua ini lebih kuat karena
sekali didapat kita tidak melepaskannya, berbeda dengan kebutuhan kita akan
penghargaan orang lain. Bentuk negative dari kebutuhan akan harga diri ini
adalah rendah diri dan kompleks inferioritas. Maslow mwmbenarkan Adler ketika
mengatakan bahwa masala inlah yang menjadi dasar masalah-masalah psikologis. Di
Negara-negara modern, sebagian besar orang hanya mementingkan kebutuhan
fisiologis dan rasa aman. Sering orang tidak terlalu memedulikan kebutuhan mereka
akan cinta dan kerinduan.
e.
Kebutuhan aktualisasi diri,
yaitu kebutuhan untuk mengenal realita. Jadi manusia memiliki keinginan yang
kuat untuk mengetahui, memahami buka saja tentang dirinya, tetapi juga diluar
dirinya.
f.
aktualisasi diri.Tingkat
terakhir ini agak sedikit berbeda dengan empat tingkat sebelumnya. Maslow
menyebut tingkat ini dengan istilah berbeda-beda: motivasi pertumbuhan (sebagai
lawan dari motivasi devisit), kebutuhan-kebutuhan untuk ada (being-needs) atau
B-Needs (sebagai lawan dari D-Needs). B-Needs adalah kebutuhan untuk
aktualisasi-Diri. Kebutuhan-kebutuhan aktualisasi diri ini tidak memerlukan
penyeimbangan atau homeostatis. Sekali diperoleh, dia akan terus dirasakan.
Kebutuhan ini memang akan meningkat kalau kita “menyebarkannya”.
Kebutuhan-kebutuhan ini mencakup hasrat untuk terus-menerus mewujudkan
potensi-potensi diri, keinginan untuk “menjadi apa yang anda bisa”. Kebutuhan
ini lebih merupakan persoalan menjadi yang sempurna, menjadi “Anda” yang
sebenarnya. Oleh karena itulah kebutuhan ini disebut aktualisasi-diri.
1.
Meta Kebutuhan dan Mega Patologi.
Cara lain yang ditempuh Maslow untuk mengetahui apakah sesungguhnya
aktualisasi-diri adalah dengan menyelidiki apa yang menjadi kebutuhan paling
dasar (B-needs) orang-orang yang bisa mengaktualisasikan dirinya.
Kebutuhan-kebutuhan yang ingin mereka penuhi demi kebahagiaan adalah:
a.
Kebenaran, bukan kepalsuan.
b.
Kebaikan, bukan kejahatan .
c.
Keindahan, bukan sesuatu yang
jelek atau vulgar.
d.
Kesatuan, kemenyeluruhan dan
penghilangan oposisi biner, bukan pilihan-pilihan sekehendak hati.
e.
Kehidupan yang hidup, bukan
kematian atau kehidupan bagai mesin.
f.
Keunikan, bukan keseragaman.
g.
Kesempurnaan dan kepastian,
bukan hal yang asal-asalan, ketidakkonsistenan atau kebetulan.
h.
Penyelesaian, bukan
keterbengkalaian.
i.
Keadilan dan keteraturan,
bukan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.
H.
Teori kepribadian Ibnu Arabi
Hampir
sepertiga bahkan lebih dari kehidupan manusia pada umumnya dihabiskan untuk
tidur. Jika usia rata-rata manusia 60 tahun, maka selama 20 tahun diisi dengan
tidur. Waktu yang tidak sedikit bukan? Namun dengan tidur, tidak berarti
manusia melewati masa sia-sia karena tidur menjaga metabolisme tubuh agar tetap
stabil. Menurut hasil penelitian, setelah 72 jam tidak tidur, akan menyebabkan
gangguan psikotik.
Dengan tidur pula, kita dapat mengakses dunia yang memperantarai dua
alam (fenomena dan abstrak) melalui mimpi. Mimpi juga memiliki manfaat,
pertama; sebagai pemenuhan keinginan terlarang (Freud) misalnya: menonjok jidat
pejabat negara yang kita benci tanpa dipidanakan, dan jika beruntung, kita
dapat “berhubungan seksual” dengan artis idola dunia yang cantik atau ganteng.
Kedua; sebagai sumber ilmu maupun risalah kenabian (Ibn Arabi).
Sadruddin Qunawi, murid Ibn Arabi mengatakan bahwa “Syeikh kita Ibn
Arabi memiliki kemampuan bertemu dengan ruh nabi atau wali yang telah meninggal
dunia, baik dengan cara membuatnya turun ke taraf dunia ini dan merenungkannya
di dalam tubuh penampakan (surah mitsaliyah) yang serupa dengan bentuk indrawi
orangnya atau dengan membuatnya muncul dalam mimpi, atau dengan melepaskan diri
dari tubuh materiil supaya menemui sang ruh.
Dalam karya pertama yang sangat monumental, Interpretation of Dream,
Freud menjadikan mimpi sebagai obyek riset psikoanalisis untuk mengatasi
gangguan-gangguan neurosis pada pasiennya. Dengan karyanya ini, Freud mulai
diperhitungkan perannya dalam dunia psikologi. Tidak sedikit yang
dipengaruhinya, diantaranya C.G. Jung, Alfred Adler yang kemudian bergabung
dibawah naungan psikoanalisis Freud, meski tidak berlangsung lama. Bahkan,
banyak ahli psikoterapi yang menekankan pentingnya analisa mimpi.
Kalau kita lacak lebih jauh, sekitar 600 tahun sebelum teori ini
muncul, Ibn Arabi (filosof sekaligus sufi dari Spanyol) sebenarnya pun sudah
banyak membahas tentang mimpi. Banyak kelebihan teori mimpinya yang tidak
dimiliki oleh Freud, begitu juga sebaliknya. Oleh karenanya tulisan ini tidak
bermaksud untuk menonjolkan kelebihan satu tokoh diantarannya, namun lebih
menekankan pada titik temu sekaligus perbedaannya untuk mencari sinergi bagi
lahirnya sebuah teori tentang mimpi yang lebih utuh untuk pengembangan
psikoterapi di masa mendatang.
1.
Definisi Mimpi
Menurut Freud, mimpi adalah penghubung antara kondisi bangun dan
tidur. Baginya, mimpi adalah ekspresi yang terdistorsi atau yang sebenarnya
dari keinginan-keinginan yang terlarang diungkapkan dalam keadaan terjaga. Jika
Freud seringkali mengidentifikasi mimpi sebagai hambatan aktivitas mental tak
sadar dalam mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan individu, beriringan dengan
tindakan psikis yang salah, selip bicara (keprucut), maupun lelucon, maka Ibn
Arabi mengidentifikasinya sebagai bagian dari imajinasi.
Bagi Ibnu Arabi, karena mimpi adalah bagian dari imajinasi, maka
untuk memahami terminologi mimpi dalam khazanah pemikirannya, terlebih dahulu
mengacu pada makna imajinasi itu sendiri. Baginya, imajinasi adalah tempat
penampakan wujud-wujud spiritual, para malaikat dan roh, tempat mereka
memperoleh bentuk dan figur-figur “rupa penampakan” mereka, dan karena disana
konsep-konsep murni (ma`ani) dan data indera (mahsusat) bertemu dan memekar
menjadi figur-figur personal yang dipersiapkan untuk menghadapi drama event
rohani.
Ia juga menambahkan, bahwa kecakapan imajinasi itu selalu aktif baik
sedang dalam keadaan bangun maupun dalam keadaan tidur. Selama jam-jam bangun
kecakapan ini juga disimpangkan oleh kesan-kesan indera (sense impression)
untuk melakukan pekerjaannya secara wajar, tapi dalam keadan tidur, ketika
indera-indera dan kecakapan lainya sedang istirahat, imajinasi terbangun semua.
2.
Hakikat Mimpi
Pada dasarnya hakikat mimpi bagi psikoanalisis hanyalah sebentuk
pemenuhan keinginan terlarang semata. Dikatakan oleh Freud (dalam Calvin S.Hal
& Gardner Lindzaey, 1998) bahwa dengan mimpi, seseorang secara tak sadar
berusaha memenuhi hasrat dan menghilangkan ketegangan dengan menciptakan
gambaran tentang tujuan yang diinginkan, karena di alam nyata sulit bagi kita
untuk mrengungkapkan kekesalan, keresahan, kemarahan, dendam, dan yang
sejenisnya kepada obyek-obyek yang menjadi sumber rasa marah, maka muncullah
dalam keinginan itu dalam bentuk mimpi.
Sementara dalam teori Ibn Arabi lebih bersifat komplementer,
setidaknya dalam hal ini, disamping memiliki substansi sebagai pemenuhan
keinginan, Ibn Arabi juga memandang situasi penciptaan sebagai pernyataan
tidur, dimana kosmos (semesta-pen) yang tercipta terlihat sebagai mimpi Ilahi.
Pengalaman manusia merupakan citra mikrokosmik. Oleh karena itu, seluruh
situasi penciptaan yang memerlukan alam “yang lain” untuk mempengaruhi
tujuannya, dapat dipandang sebagai semacam lamunan Ilahi, dimana ilusi sesuatu
yang “bukan Aku” diperkenalkan pada kesadaran Ilahi sebagai refleksi
posibilitasnya.
3.
Jenis dan Manfaat Mimpi.
Freud mengenalkan satu jenis mimpi yaitu mimpi kanak-kanak, dimana
pada tahun-tahun berikutnya akan ditemukan mimpi yang bertipe sama, bahkan pada
orang dewasa, sehingga diharapkan dapat memberikan informasi yang valid serta
dapat digeneralisasi pada tahapan berikutnya. Tekhnik tersebut lazim dilakukan
oleh Freud, sebagaimana acuan tahapan-tahapan psikoseksual dalam teori
kepribadiannya. Berbeda dengan Jung, rekan sekaligus muridnya, yang membagi
mimpi menjadi dua; mimpi retrospektif dan mimpi introspektif.
Sedangkan Ibn Arabi membagi mimpi menjadi tiga, Pertama; mimpi atau
kesan-kesan yang berhubungan dengan kejadian sehari-hari dari orang itu dan
mengirimkannya ke ”mata batin” dari hati yang merefleksikan dan membesarkan
mereka seperti layaknya sebuah cermin. Dengan cara inilah, mimpi biasa muncul
sebagai asosiasi-asosiasi dari pikiran-pikiran (ideas) dan kesan-kesan (images)
yang menghubungkan diri mereka sendiri dengan beberapa obyek syahwat.
Jika kita cermati, melihat manfaat jenis mimpi Ibnu Arabi tersebut
ada kemiripan dengan teori Freud, meski ia tidak mengkategorikannya sebagai
bagian jenis mimpi. Freud menyebutnya sebagai pemenuhan atau refleksi keinginan
seseorang, baik berupa kesenangan, maupun sesuatu yang mengerikan (mimpi buruk)
sekalipun. Baginya, hal itu terjadi karena adanya mimpi yang terdistorsi yang
tidak memperlihatkan adanya pemenuhan keinginan yang jelas sehingga harus
dicari terlebih dahulu dan diinterpretasikan. Kita juga mengetahui bahwa
keinginan yang mendasari mimpi yang terdistorsi adalah keinginan-keinginan yang
dilarang dan ditolak oleh penyensoran, sehingga eksistensi mereka menjadi
penyebab distorsi dan merupakan motif campur tangan penyensoran.
Kedua: semacam arus yang mengalir namun tetap bersih, dimana
dipancarkan obyek-obyek segala gambaran (mimpi simbolis-pen). Ibn Arabi
menyatakan bahwa walaupun mimpi-mimpi semacam itu dapat dipercaya, namun itu
harus ditafsirkan karena hanya berupa simbol-simbol saja. Imajinasilah yang
mensuplai simbol-simbol itu. Dan kita tidak harus mengambil simbol-simbol itu
secara realitas. Ketika Nabi melihat susu di dalam mimpinya, ia hanya melihat
simbol saja, kualitas di balakang air susu itu adalah “pengetahuan”.
Freud mengatakan bahwa simbolisme merupakan bagian paling
mengagumkan dalam teorinya. Karena dalam beberapa kondisi, simbol memungkinkan
kita menginterpretasikan mimpi tanpa harus mengajukan pertanyaan pada orang
yang mengalami mimpi yang kadang-kadang malah tidak bisa memberitahukan apa-apa
tentang simbol-simbol itu. Disini Freud juga mencoba menyimpulkan beberapa hal
mengenai simbolisme dalam mimpi. Pertama; kita menentang pendapat bahwa orang
yang bermimpi merasa tidak mengetahui bahwa simbol-simbol berhubungan dengan
kehidupan dalam kondisi bangun. Kedua; hubungan simbolik bukan sesuatu yang
khas bagi orang yang bermimpi, tapi ruang lingkup simbolisme sangat luas.
Simbolisme mimpi hanya bagian kecil saja. Ini berbeda dengan simbolisme pada
mitos, dongeng dan sebagainya. Ketiga; simbolisme yang muncul di bidang lain
ternyata berhubungan dengan tema-tema seksual seperti dalam mimpi simbol-simbol
yang sama juga melambangkan obyek dan hubungan seksual, misalnya: simbol
phallic (alat kelamin) yang diinterpretasikan Jung sebagai unsur arketipe
“mana” (spiritual).
Tapi bagi Freud dianggap sebagai alat kelamin yang sebenarnya.
Intinya, Freud seringkali mengkait-kaitkan simbolisme dalam mimpi sebagai organ
atau aktivitas seksual seperti; sepatu, sandal, dataran, kebun serta bunga
sebagai perlambang vagina, sementara dasi diartikan sebagai penis, dan bahan
dasi (linen) adalah lambang milik wanita. Sedangkan baju dan seragam
melambangkan ketelanjangan. Keempat: simbolisme adalah faktor kedua dan faktor
independen dalam distorsi mimpi yang hidup berdampingan dengan penyensoran.
Adapun manfaat yang dapat dipetik dari jenis mimpi ini adalah
berupa; pengetahuan. Pemenang nobel, Loevi, memimpikan sebuah eksperimen selama
3 malam. Pada malam pertama, ia membuat catatan tapi tidak bisa menguraikannya
kembali dan pada malam ketiga ia terbangun melakukan eksperimen dan memecahkan
penemuannya.
Ketiga: mimpi spiritual non simbolik, yaitu; mimpi-mimpi yang dapat
dipercaya yang tidak ada simbolnya. Disini imajinasi tidak campur tangan.
“Hati” langsung merefleksikan kesan-kesan spiritual (ma`ani ghaibiyah). Sebelum
imajinasi dapat membaca makna simbolik apapun. Mimpi-mimpi jenis ini tidak
memerlukan penafsiran, mereka adalah wahyu-wayu dari yang riil itu sendiri. Dan
mimpi-mimpi berhubungan dalam tiap rinci dengan segala sesuatu yang dilihat
(kemudian) di dalam dunia luar. Dalam mimpi golongan ini terdapat wahyu
(revelation) dan ilham, inspirasi yang keluar langsung dari jiwa individual.
Karakteristik serta manfaat dari mimpi jenis ini hanya dapat diperoleh oleh
jiwa-jiwa yang telah menjalani penyucian hati hingga mencapai tarafnya para
wali atau para nabi.
Kategori mimpi ketiga inilah yang sama sekali tidak disinggung oleh
Sigmund Freud dalam teorinya, bahkan tidak mampu dijamah oleh C.G.Jung dalam
klasifikasi teori mimpinya.
4.
Interpretasi Mimpi
Mengenai interpretasi tentang mimpi , Ibn Arabi mengatakan bahwa
segala sesuatu datang dalam alam imajinasi karena mereka tafsirkan. Ini berarti
bahwa sesuatu itu sendiri memiliki bentuk tertentu yang muncul dalam bentuk
lain sehingga sang penafsir mendapatkan sesuatu dari bentuk yang dilihat oleh
si pemimpi kepada sesuatu itu sendiri. Jika dia berasil, seperti munculnya
pengetahuan dalam bentuk susu kepada bentuk pengetahuan, sehingga mengubah
makna sesungguhnya dari keduanya- dari satu bidang ke bidang lainnya, yang
merupakan perubahan yang tepat dari bentuk susu menjadi bentuk pengetahuan.
Ketika Yusuf as berkata “Aku melihat sebelas bintang, matahari, dan
bulan, yang kulihat semuanya sujud padaku”. Yusuf melihat saudara-saudaranya
dalam bentuk bintang-bintang dan melihat ayah dan bibinya sebagai matahari dan
bulan, ini sudut pandang Yusuf. Tetapi, dilihat dari sudut pandang siapapun
juga, perwujudan saudara-saudara sebagai bintang, dan ayah serta bibinya
sebagai matahari dan bulan dikaitkan dengan harapan dan doa mereka. Jadi,
selama mereka tidak ada pengetahuan atas apa yang dilihat Yusuf mengenai apa
yang ia lihat, berperan melalui kemampuan imajinatifnya sendiri. Ketika Yusuf
memberitahu Ya`qub tentang pandangannya ini, Ya`qub memahami situasi ini dan
bersabda, “ Anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada
sudara-saudaramu, kalau tidak, mereka akan membuat makar (untuk
membinasakanmu)”. Kemudian Ya`qub mulai membebaskan putranya dari makar dan
menempatkan itu di pintu syetan yang sangat mahir dalam soal makar, sambil
mengatakan, “sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”,
yang secara lahiriah memang begitu.
Lebih jauh lagi, Yusuf berkata, “inilah arti mimpiku yang dahulu
itu, sesungguhya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan”, yaitu Tuhan
menjadikannya terwujud pada pikiran sehat, yang sebelumnya terbentuk dari
imajinasi. Mengenai hal ini, Nabi Muhammad bersabda, “manusia tidur”, sedangkan
Yusuf berkata, Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan”. Karena berkenaan
dengan apa yang dikatakan sang Nabi, ia berada dalam posisi seseorang yang
bermimpi sehingga beliau telah terbangun dari sebuah mimpi dan kemudian
menafsirkannya. Orang seperti ini tidak mengetahui bahwa dia masih tertidur dan
bermimpi, tetapi saat terbangun, dia berkata,”Aku telah melihat begini dan
begitu, yang, dengan bermimpi bahwa aku telah bangun, aku tafsirkan.” Sama
seperti inilah situasi Yusuf.
Ungkapan Ibn Arabi mengenai pengetahuan pemimpi atas makna mimpinya,
hampir senada dengan apa yang dikemukakan oleh Freud, bahwa “dalam kasus mimpi,
orang yang bermimpi selalu mengatakan tidak tahu apa makna mimpinya. Sedangkan
kita juga tidak mempunyai apapun untuk memberi penjelasan kepadanya. Tapi saya
akan meyakinkan anda bahwa masih ada kemungkinan, bahkan cukup besar, karena
orang yang bermimpi itu sebenarnya mengetahui apa makna mimpinya, Hanya saja
dia tidak tahu bahwa dia mengetahuinya sehingga dia mengira dirinya tidak tahu
apa-apa.
Seperti pembahasan mengenai
simbolisme, dalam interpretasinya, Freud lebih mengaitkan dengan tema-tema
seksual dengan melambangkan simbol-simbol tersebut dengan obyek maupun
aktivitas seksual. Demikian pula halnya dengan Ibn Arabi, Ia hanya memberikan
ruang untuk penafsiran pada jenis mimpi simbolis. Tentu interpretasinya tidak
hanya sebatas penekanan pada obyek-obyek seksual. Perbedaan definisi, hakikat,
jenis mimpi, manfaat serta interpretasi mimpi antara teori Ibn Arabi dengan
Freud yang telah kami jelaskan diatas dapat dirumuskan sebagai berikut :
Mungkin pandangan Freud lebih lengkap dari Ibnu Arabi mengenai cara
kerja, sensor mimpi serta teknik-teknik interpretasi secara detail. Hal ini
bisa jadi karena masih terbatasnya karya-karya Ibn Arabi yang dapat diakses
atau memang rumitnya pemahaman atas konsepnya, sebagaimana yang diilustrasikan
oleh A.J. Arberry bahwa “Ibn Arabi bisa dibandingkan dengan sebuah puncak
gunung yang belum dieksplor, banyak wilayah pada sisi yang sudah dikenal,
tetapi masih harus ditentukan dengan tepat bagaimana arah menuju puncaknya,
atau dengan ketinggian apa air mancur itu meluapi dengan baik pada sungai yang
kuat dari semua pemikiran mistik selanjutnya, baik muslim maupun Kristen.
Daftar Pustaka
Brennan, James F. 2006. Sejarah dan Sistem Psikologi. Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada
Sarlito W. Sarwono. 2002. Berkenalan
dengan ALiran-Aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi. Jakarta : PT Bulan Bintang
http://id.shvoong.com/books/1724945-komparasi-teori-kepribadian-al-ghazali/#ixzz1NvpYRVzS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komentar anda membantu memperbaiki kualitas blog ini.
thanks