BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang Masalah
Dengan observasi yang dilakukan
mengenai gelombang-gelombang dan penerapannya, melalui sumber-sumber yang
penulis dapatkan di buku ataupun sumber lainnya. Dan untuk menguraikan
permasalahan tersebut lebih detail lagi, penulis mencoba membuat makalah yang
isinya membahas tentang “Remaja, Pemuda dan Permasalahannya”.
1.2
Rumusan
Masalah
Berdasarkan uraian yang telah
diungkapkan diatas, penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut.
1.
Apa
Pengertian dari Tekanan?
2.
Apa
Pengertian dari kelarutan?
3.
Apa
Pengaruh Tekanan Terhadap Kelarutan?
4.
Apa
Saja Aplikasi Dari Tekanan Terhadap Kelarutan?
1.3
Tujuan
Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas
dan hasil penelitian, penulis mempunyai beberapa tujuan yang ingin dicapai.
Adapun tujuannya sebagai berikut.
1)
Dapat menjelaskan pengertian tekanan.
2)
Dapat menjelaskan pengertian kelarutan.
3)
Dapat menjelaskan pengaruh tekanan
terhadap kelarutan.
4)
Dapat menjelaskan applikasi tekanan
terhadap kelarutan.
1.4
Manfaat
Penelitian
Penelitian ini memiliki manfaat
sebagai berikut.
1)
Manfaat Umum
Makalah hasil penelitian dapat
menunjang materi pembelajaran dan dapat dijadikan bahan baku referensi
pelajaran.
2) Manfaat Khusus
Penelitian
dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti serta dapat melatih peneliti
untuk memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan lebih telaten dalam mencari dan
mengumpulkan sumber dan informasi selama melakukan penelitian.
3) Manfaat
untuk peneliti yang akan datang
Makalah
hasil penelitian sebelumnya dapat dijadikan bahan referensi sumber untuk
pembuatan makalah selanjutnya dan dapat memberi gambaran dalam penelitian yang
akan dilakukannya.
1.5
Metode
Penelitian
1.5.1
Subjek
Penelitian
Subjek
Penelitian adalah kajian tentang pengaruh tekanan terhadap kelarutan, yang
pengambilan datanya diambil dari berbagai buku yang berisi tentang pengaruh
tekanan terhadap kelarutan dan pengaplikasiannya dan dari berbagai sumber
lainnya.
1.5.2
Prosedur
Penelitian
Prosedur
penelitian mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.
1)
Menentukan sumber-sumber yang akan
dijadikan referensi pembuatan makalah.
2)
Mengidentifikasi tekanan yang
berpengaruh terhadap kelarutan.
3)
Menyusun semua informasi yang telah
diperoleh untuk menjawab rumusan masalah yang telah dibuat.
BAB
II
PENGARUH
TEKANAN
TERHADAP KELARUTAN
TERHADAP KELARUTAN
2.1 Pengertian Tekanan
Tekanan merupakan salah satu sifat gas yang segera dapat diukur. Besaran
tekanan, yang didefinisikan sebagai gaya normal (tegak lurus) yang bekerja pada suatu
bidang dibagi dengan luas bidang tersebut. Secara matematisnya dirumuskan
sebagai berikut : P =
Sedangkan satuan SI untuk tekanan adalah pascal (disingkat Pa) untuk
memberi penghargaan kepada Blaise Pascal, penemu hukum Pascal.
Ø Tekanan atmosfer
Atom-atom dan molekul molekul-molekul gas dalam atmosfer, seperti halnya
material lainnya mengalami gaya tarik gravitasi bumi yang mengakibatkan
kerapatan atmosfer didaerah dekat permukaan bumi lebih besar dibandingkan
dengan daerah yang memiliki ketinggian jauh diatas permukaan bumi. Tekanan
atmosfer adalah tekanan yang diberikan oleh atmosfer bumi, tekanan atmosfer
standar sendiri yaitu 1 atm. atau tepatnya sama dengan tekanan yang menopang
kolom merkuri setinggi 760 mm pada permukaan laut dan suhu 273 Kelvin.
2.2 Pengertian Kelarutan
Apabila suatu zat
(elektrolit) dilarutkan dalam air, maka zat tersebut akan terdisosiasi menjadi
ion-ionnya. Didalam larutannya, ion-ion tersebut dapat bertumbukan kembali
membentuk padatan. Kondisi laju disosiasi elektrolit embentuk ion-ionnya sama
dengan sama dengan laju kembali penggabungan ion-ion tersebut menjadi padatan
disebut kesetimbangan dinamis. Pada kesetimbangan ini jika konsentrasi ion-ion
pada larutan tidak berubah lagi maka larutan demikian dikatakan larutan jenuh.
Konsentrasi zat yang larut disebut Kelarutan (mol/L) atau dengan kata lain
Kelarutan adalah jumlah maksimum suatu zat yang dapat larut didalam suatu
pelarut.
2.3 Pengaruh
Tekanan Terhadap kelarutan
Perubahan
tekanan berpengaruh sedikit saja pada kelarutan, jika zat terlarut itu cairan
atau padatan. Tetapi, dalam pembentukan larutan jenuh suatu gas dalam suatu
cairan, tekanan gas berperan penting dalam menentukan berapa banyak gas itu
melarut. Masaa suatu gas yang melarut dalam jumlah tertentu cairan
berbanding lurus dengan tekanan yang dilakukan oleh gas itu, yang beraada dalam
kesetimbangan dengan larutan itu. ini adalah Hukum Henry, yang
diungkapkan oleh William Henry (1774-1836). Hukum Henry tidak berlaku untuk
gas-gas yang beraksi dengan pelarut, misalnya asam klorida atau amoniak dalam
air. Secara matematis dirumuskan sebagai berikut: p = kH
. c
di mana p adalah tekanan parsial dari zat terlarut dalam gas atas larutan, c adalah konsentrasi zat terlarut dan k H adalah konstanta dengan dimensi tekanan dibagi dengan
konsentrasi. Konstanta, yang dikenal sebagai hukum Henry konstan , tergantung
pada zat terlarut, pelarut dan suhu.
2.4 Applikasi
Tekanan Terhadap Kelarutan
Hukum henry
membantu memahami bagaimana konsentrasi asam karbonat, H2CO3,
dan ion bikarbonat, HCO3-, dijaga dalam darah. Banyaknya
H2CO3 yang melarut bergantung pada tekanan CO2
gas pada sistem. Jika tekanan CO2 bertambah, katakan sebagai akibat
metabolisme sel, maka lebih banyak gas CO2 melarut ke dalam darah
untuk menghasilkan H2CO3. Jika karena suatu sebab,
banyaknya H2CO3 berkurang, maka CO2, dari
cadangan besar dalam paru-paru akan melarut ke dalam darah untuk memulihkan
persendian.
Hukum Henry dapat dipahami secara kualitatif
ditinjau dari segi teori kinetik molekul. Banyaknya gas yang akan terlarut
dalam pelarut bergantung pada seberapa sering molekul–molekul dalam fase gas
bertumpukan denga permukaan cairan dan terjebak oleh fase cairan.
Pada setiap
saat, jumlah molekul gas yang memasuki larutan sama dengan jumlah molekul
terlarut yang bergerak memasuki gas. Bila tekanan parsial dinaikkan, semakin
banyak molekul yang larut dalam cairan karena semakin banyak molekul yang
menabrak cairan. Proses ini terus berlanjut sampai konsentrasi larutan kembali
sedemikian rupa sehingga jumlah molekul yang meninggalkan larutan per detik
sama dengan jjumlah molekul yang memasuki larutan.
Aplikasi
ssederhana dalam kehudupan sehari-hari dari hukum Henry ialah pembuihan minuman
berkabonasi bila tutup botol di buka. Sebelum botol di tutup, botol di beri
tekanan berupa campuran udara dan CO2 yang di jenuhkan dengan uap
air. Karena tingginya tekanan parsial CO2 di dalam campuran gas
penekan, jumlah CO2 yang
terlarut dalam minuman berkarbonasi beberapa kali lebih tinggi di bandingkan
yang terlarut pada kondisi atmosfer normal. Bila tutup di buka, gas yang
tertekan akan terlepas, pada akhirnya tekanan dalam botol menurun mencapai tekanan
atmosfer, dan banyaknya CO2 yang tersisa dalam minuman hanya di
tentukan oleh tekanan parsial atmosfer normal dari CO2 yaitu 0,0003
atm. Kelebihan CO2 yang terlarut akan keluar dari larutan,
menyebabkan pembuihan. Sebagian besar gas mematuhi hukum Henry, tetapi ada
beberapa pengecualian penting. Misalnya, jika gas yang teralrut bereaksi dengan
air, dapat dihasilkan kelarutan yang lebih tinggi.
Aplikasi yang lebih kompleks dari pengaruh tekanan terhadap
kelarutan (hukum Henry) yaitu
dalam Dekompresi dan Penyakit Dekompresi dari penyelam. Penyakit
Dekompresi atau dalam bahasa inggris kita sebut sebagai Decompression Sickness adalah
suatu keadaan yang paling harus dihindari oleh setiap diver. Secara sederhana dekompresi didefinisikan
sebagai suatu keadaan medis dimana akumulasi nitrogen yang terlarut setelah
menyelam membentuk gelembung udara yang menyumbat aliran darah serta system
syaraf. Akibat dari kondisi tersebut maka timbul gejala yang mirip sekali
dengan stroke, dimana akan timbul gejala-gejala seperti mati rasa (numbness),
paralysis (kelumpuhan), bahkan kehilangan kesadaran yang bisa menyebabkan
meninggal dunia. Teori yang mendasarinya adalah Hukum Henry. Teori lainnya yang
mendukung teori dekompresi adalah HUKUM BOYLE, yang menyebutkan bahwa semakin
tinggi tekanan udara, maka kepadatan molekul udara akan semakin padat pada
volume yang sama. Contoh, jika dipermukaan air kita ada sebuah balon yang
berukuran 1 Liter berisi satu juta molekul gas, maka pada kedalaman 30 meter, 1
Liter balon gas tersebut akan akan berisi 4 juta molekul gas. Hal ini berarti
bahwa semakin dalam menyelam maka
semakin banyak menghirup molekul gas ketimbang saat tidak menyelam. Pada saat
menyelam penyelam biasanya menggunakan tabung yang beisi oksigen dan nitrogen
walaupun ada tiga macam tabung gas yaitu campuran antara nitrogen-oksigen,
helium-oksigen dan campuran ketiganya. Saat menyelam, terjadinya peningkatan
tekanan, maka udara yang dihirup lebih banyak dari biasanya. Seperti yang telah diketahui bahwa udara yang dihirup
saat menyelam adalah mayoritas Oksigen dan Nitrogen. Peningkatan oksigen yang
dihirup akan berdampak positif bagi metabolisme tubuh, namun gas nitrogen tidak
digunakan oleh tubuh. Maka
akibatnya, gas Nitrogen akan
terakumulasi didalam tubuh penyelam proporsi dengan durasi menyelam dan
kedalaman penyelaman.
Dengan kata lain, semakin dalam menyelam atau semakin lama menyelam, maka akumulasi
nitrogen didalam tubuh penyelam akan semakin banyak. Akumulasi nitrogen yang
semakin banyak dalam tubuh akan dinetralisir oleh tubuh dalam waktu yang
relatif singkat melalui proses respirasi. Sepanjang penyelaman tidak terlalu
dalam dan lama, serta naik secara perlahan. Akan tetapi lain halnya apabila penyelam naik dengan cepat dari kedalaman tertentu ke
permukaan air. Hal ini akan sama kondisinya dengan botol cola yang dikocok lalu dibuka tutupnya. Nitrogen yang
sudah ter-akumulasi didalam cairan tubuh penyelam akan dilepas dalam bentuk
gelembung udara (buih) akibat dari penurunan tekanan secara drastis.
maupun
sistem syaraf tubuh manusia.
Akibatnya
bisa sangat fatal, mirip dengan stroke.
Gejala-gejala Dekompresi biasanya timbul sesaat
Gambar.Akumulasi
Buih N2
|
Gejala-gejala dekompresi ini dibagi menjadi 2
jenis,
yaitu type pain only yang relatif lebih ringan,
dan Dekompresi type 2 ini gejalanya bisa lebih serius. Penyakit dekompresi
sendiri dapat dicegah dengan cara yang relatif mudah yaitu dengan mentaati
peraturan menyelam, menggunakan alat-alat yang baik dan tepat, serta menyelam
pada batasan-batasan tertentu dan naik kepermukaan secara perlahan-lahan. Akan
tetapi jika telah terjadi dekompresi biasa maka tahap pertama adalah memberikan
oksigen murni (100 %) kepada penyelam yang menunjukan
gejala dekompresisehabis menyelam, kemudian hubungi Rumah Sakit yang memiliki
fasilitas Hyperbarik (Recompression Chamber). Segera evakuasi korban ke
fasilitas hyperbarik terdekat.
Gejala-gejala Dekompresi tidak akan membaik sampai si korban
mendapatkan terapi hiperbarik.
Gambar.Ruang
Dekompresi
|
BAB III
PENUTUP
Dari pembahasan
mengenai Gelombang, penulis menyimpulkan kesimpulan sebagai berikut.
DAFTAR
PUSTAKA
Raymond
Chang, “Kimia Dasar konsep-konsep inti, jilid 2”, Erlangga, Jakarta.
James E.
Brady ” Kimia Universitas asas dan
struktur, jilid 1”, Binarupa Aksara,
Jakarta.
Drs. Hiskia Achmad, “Kimia Larutan”, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1992.
Drs.
Hiskia Achmad, “Kimia Unsur dan Radio Kimia”, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung,
1992. Tim Eramedia, “Kamus Pintar Kimia”, Era Media publisher, Bandung, 2008.
C.W
Keenan dan D.C. Kleinfelter “Kimia Untuk Universitas jilid 1” Erlangga
Jakarta 1998
Tyraa12’s
Blog.com (18 Maret 2011)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komentar anda membantu memperbaiki kualitas blog ini.
thanks